Rabu, 30 April 2025

Ragu: Baik atau Buruk? Pentingkah?

 Saat artikel ini ditulis, sudah masuk pada Masa Paskah pekan kedua. Menariknya, saat ini sedang sangat digaungkan perikop dari Yohanes 20 : 20-29. Betul, perikop yang membahas Tomas, Sang Peragu.

 Tomas, karena keraguannya terhadap kebangkitan Yesus, dia jadi disematkan diksi "Ragu". Tapi, mari kita coba selami lebih lagi sudut pandang dari Tomas. Pada dasarnya, sangat sulit bagi murid-murid saat itu, tidak terkecuali Tomas. Mereka harus kehilangan Sosok yang mereka percayai, mereka jadikan pusat atas mereka. Hal ini yang menjadi dasar luka batin yang dialami oleh Tomas dan keraguannya atas kebangkitan Yesus pun jelas, tidak ada orang yang sudah mati, bisa bangkit. 

  Hal ini juga bukan berarti Tomas memiliki iman yang "cetek", tapi inilah iman yang jujur. Keraguan Tomas berasal dari harapan dan kerinduannya akan Yesus. Ironis, bukan? Saat orang lain melihat Tomas itu ragu, di sisi lain Tomas sebenarnya ingin percaya bahwa Yesus bangkit, namun lukanya yang mendalam, membuatnya melihat harus diperlukannya bukti. 

  Ketika kita membaca Alkitab, kita melihat kisah Tomas, ini kisah yang sangat inspiratif, bukan? Tomas menjadi sosok yang awalnya sangsi, yang berakhir menjadi saksi. Tetapi, jika kita di kehidupan nyata, bagaimana? Lebih sering kita lihat apa? Orang dihargai karena mencoba mencari jawaban atau orang diolok-olok karena dianggap tidak percaya? Kita tidak perlu menyangkal bahwa di lingkungan yang sangat dogmatis ini, seringkali hanya kita mempertanyakan Tuhan, kita malah dihakimi memiliki iman yang lemah. 

  Saya tidak meminta para pembaca artikel ini memikirkan yang saya percayai. Namun, saya meminta para pembaca memikirkan yang para pembaca percayai. Sejujurnya, saya sangat muak dengan pemikiran dogmatis seperti itu. Saya tidak ingin terikat dalam berpikir. 

  Bagi saya, iman yang hidup adalah iman yang berani mempertanyakan Tuhan. Ayub, Yakub, dan Musa berani untuk menentang Tuhan, berani untuk mempertanyakan Tuhan, berani untuk meragukan Tuhan. Kenapa kita tidak boleh menentang-Nya? Bagi saya, keberanian dalam menentang dan mempertanyakan Tuhan adalah bentuk kedekatan pula pada-Nya. 

   Iman, seringkali bertumbuh pada percarian makna, seringkali bertumbuh saat kita berupaya menanggapi keraguan kita. Iman memang perlu pembuktian, dan saat inilah keraguan itu menjadi penting. Penting karena dasar dari pembuktian adalah mencoba mempertanyakan, mencoba meragukan. 

  Nah, dalam hal mencari pembuktian pun, menjadi masalah yang baru pula. Seringkali, manusia dalam mencari makna, pemaknaan dijadikan upaya manusia berlari dari permasalahan utamanya. Menjadi upaya manusia lari dari kenyataan. Hal ini menjadi masalah jika kita melihat dari kacamata Karl Marx. Namun, kita coba lihat lebih dalam lagi, manusia memang selalu mendambakan sesuatu yang membuatnya bahagia. Pemaknaan atas keraguan inilah yang membuatnya manusia bisa lari sebentar, istirahat sebentar, berharap sebentar dari hal yang mengejar manusia. Yang membuat manusia menderita. 


Apakah kamu masih ingin terus mempertanyakan Tuhan? 

(Not Be) Birth

 Today was my birthday. 21st of January. I really-really hate the day i was born. Yes, just like Job and Jeremiah. They cursed the day they ...