Selasa, 28 Januari 2025

Mari Kita Uji Semua Kebenaran yang Ada: Nabi Palsu oleh Hindia hasil Refleksi Spiritual Pribadi dari Yeremia 28

 Baskara Putra dengan nama panggung Hindia merilis sebuah album berjudul Lagipula Hidup Akan Berakhir pada tahun 2023 yang lalu. Seperti pada biasanya di setiap album yang sudah Baskara rilis, Baskara selalu menulis lagu yang penuh makna dan sangat reflektif. Lebih tepatnya yang Penulis ingin rombak dan cari maknanya adalah lagu Baskara yang berjudul Nabi Palsu. Sekilas, jika melihat dari judul, bisa saja kita menanggapi lagu ini sebagai lagu sesat, bidat, satanik, seperti berbagai tuduhan yang Baskara selalu dapatkan di setiap saat Baskara berkarya. Namun, mari kita coba telisik, kita cari lebih dalam, kita temukan makna yang lebih mendalam lagi dan kita hubungkan pada Yeremia 28.

 

Di sebuah kota, pinggir Jakarta

Ada seorang anak belajar dansa

Dengan bayangannya, dengan lukanya

Dibalut lagu, sedikit pas-pasan

Dan tanpa disangka, mimpinya jadi besar

Awalnya ia dambakan, ternyata merepotkan

 

 Verse dan bridge pertama dalam lagu ini menceritakan tentang seorang anak yang terinfluence dengan lagu yang ia pelajari. Dalam perjalanannya, ia menemukan bahwa semua hal yang ia inginkan tak semudah dalam lagu-lagu yang ia temukan. Yang ia dambakan dalam hidup, ternyata jadi bagian yang merepotkan yang tidak ia kira.

 

Banjir acara, di Ibu Kota

Ada seorang pria belajar terbuka

Dengan dirinya, perasaannya

Dibalut lagu, masih pas-pasan

Dan tanpa diminta, orang perdebatkannya

Tanpa titik tengah, entah benci dan suka

 

  Verse dan bridge kedua dalam lagu ini merupakan contoh lain yang dihadirkan dalam lagu ini. Bagian ini menceritakan seorang pria yang sedang belajar untuk meregulasi diri dan perasaannya. Dalam perjalanannya, ia menemukan satu atau banyak orang yang selalu kontra terhadap dirinya yang sedang belajar. Selalu ia temukan perdebatan yang tidak ada hasil akhirnya dan bingung antara benci dan suka ketika ada yang berdebat.

  Dari dua contoh ini terdapat satu kalimat yang mirip, yang Penulis kira ada artinya lebih daripada sebuah kalimat. Kalimat tersebut adalah "sedikit pas-pasan" dan "masih pas-pasan". Penulis kira, kedua kalimat tersebut bermaksud tentang pemahaman anak kecil dan pria tersebut, yang buru-buru memaknai dan percaya pada lagu (lagu dalam hal ini bisa jadi banyak hal, yang pasti adalah yang mereka dapatkan dari orang lain) dan langsung diimplementasikan dalam kehidupan mereka. Maka, ketika mereka menemukan sesuatu yang berbeda, mereka bisa saja tersandung dalam paradigma mereka sendiri. Lalu, respon yang mereka berikan apa? Nah, respon mereka bisa kita lihat dalam reff lagu ini.

 

Maka ia berpesan, pada dasarnya semua orang hipokrit

Percaya hanya pada dirimu, bukan idolamu yang liriknya berbelit

Juga dengan mereka, yang menjual air mata setiap menit

Atau dengan pelaku skena, yang bagimu keren selangit

 

  Respon dari anak dan pria tersebut sama, mereka berpesan pada semua orang, bahwa semua orang pada akhirnya itu munafik. Kedua orang tersebut memberikan tiga contoh orang yang selalu kita uji kebenarannya, yakni seniman idola, orang yang "menjual air mata", dan pelaku skena. Nah, bagi Penulis, ini pesan yang sangat menarik, karena hal ini sangat relevan pada dewasa ini. Hal ini sebenarnya yang menjadi keresahan bagi Baskara. Baskara resah ketika para pendengarnya menjadikan dirinya sebagai satu-satunya keresahan. Baskara melalui lagu ini ingin mendorong para pendengarnya menguji makna setiap karya dan perkataan dari para seniman juga para figur publik dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya kebenaran yang ada.

   Hal ini Penulis temukan juga pada Yeremia 28. Sebagai konteks, pada saat itu Bangsa Yehuda sedang dijajah oleh Kerajaan Babel. Hananya sebagai Nabi Kultis memberikan pernyataan pada Bangsa Yehuda bahwa Tuhan akan menyelesaikan  penjajahan oleh Babel  dalam dua tahun dan semua peralatan Bait Allah akan kembali ke Yerusalem.Yeremia menanggapi nubuatan Hananya dengan kritis bahwa nabi itu selalu hadir memberikan pesan dengan makna yang lebih dalam dan cenderung tidak disukai oleh masyarakat. Yeremia menyatakan, jikalau nubuatan itu hadir, maka nabi-nabi sebelumnya yang menawarkan pendamaian, seharusnya sudah berhasil, namun nyatanya masih berisi penindasan. Yeremia hadir memberikan pernyataan yang berbeda dengan Hananya. Yeremia memberikan pernyataan bahwa memang Tuhan-lah yang membuat Bangsa Yehuda untuk dijajah oleh Babel dan tidak segera melepaskannya. Firman Tuhan melalui Yeremia menyatakan bahwa Hananya telah mengajak Bangsa Yehuda untuk melawan Tuhan. Lalu, Yeremia bernubuat bahwa Hananya akan mati di tahun itu juga. Akhirnya, nubuat Yeremia-lah yang terbukti, Hananya mati di tahun tersebut pada bulan ketujuh.

 Refleksi pribadi Penulis adalah kedua teks tersebut berisi tentang discernment, berisi tentang kemampuan untukl mengenali kebenaran sejati di antara banyak kebenaran. Bagi Baskara, Baskara menuangkan keresahannya melalui lagu Nabi Palsu ini. Baskara ingin menekankan bahwa seniman bukanlah satu-satunya kebenaran dan pemaknaan dalam lagu pun bukan satu-satunya kebenaran mutlak. Baskara ingin menekankan bahwa para pendengarnya perlu menguji semua perkataan atau perilaku seniman dan figur publik. Baskara ingin menyampaikan juga bahwa menyesuaikan semua yang ada dengan nilai-nilai pribadi. Hal yang sama, terjadi pada teks Yeremia 28, ingin menunjukkan bahwa dalam dua pendapat yang terlihat otoritatif dan berasal dari pemaknaan terhadap Tuhan, kita harus selalu menguji semuanya. Dalam pengujiannya, kita harus menemukan, mana yang berasal dari Tuhan yang sejati, mana yang hanya terlihat benar saja

   Kedua teks ini berbicara tentang kewajiban dan tanggungjawab pribadi untuk memahami, menilai, menguji, mengetahui kebenaran yang sejati. Tentunya, dalam dewasa ini, hal yang menjadi cukup sulit mencari kebenaran yang sejati di antara banyaknya kebenaran yang ada. Penulis merupakan Mahasiswa Teologi dan ini sangat menjadi perenungan seumu rhidup bagi Penulis. Seorang dosen pernah menguji mahasiswanya, "Maka, yang perlu kita renungkan dalam menjalani ini semua adalah, sebenarnya kita ini Yeremia atau Hananya?" dan berangkat dari pertanyaan ini, artikel ini ditulis karena berangkat dari keresahan Penulis yang kebetulan sama dengan keresahan Baskara. 


Sumber:

1. https://superlive.id/supermusic/artikel/super-buzz/hindia-menemukan-titik-terang-di-antara-keresahan-pada-lagipula-hidup-akan-berakhir-bagian-ii

2. https://www.intipseleb.com/lokal/75182-nabi-palsu-jadi-pesan-spesial-hindia-di-album-kedua-lagipula-hidup-akan-berakhir

3. https://katolisitas.org/discernment-pembedaan-roh-roh/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(Not Be) Birth

 Today was my birthday. 21st of January. I really-really hate the day i was born. Yes, just like Job and Jeremiah. They cursed the day they ...