Selasa, 20 Januari 2026

(Not Be) Birth

 Today was my birthday. 21st of January. I really-really hate the day i was born. Yes, just like Job and Jeremiah. They cursed the day they were born and wish to not be born. 

  In Bahasa, terms of "Happy Birthday" was translated to "Selamat Ulang Tahun," and it made me sick. When I was five years old, I've got my first birthday party. I do feel like I was a main character. And the tomorrow of it, my friend give me his lunch. My teacher saw it, and she ask to my friend, am I ask for it or he gave it to me. My friend—maybe he didn't knew about terms minta or memberi—told my teachers I was the one ask for it, and I really felt it was my first betrayal. When I was 14, we go out for eat some steaks, and my parents got fight, because something happened in their work. When I was 18, I got my first puppy, and yet I should gave him away because my family couldn't afford a new member of family. When everyone said "Selamat Ulang Tahun" to me, I really hate it, because it made me to mengulangi banyak hal yang terjadi selama aku ulang tahun. And it was awful. 

   I really cursed the day I was born. I was a understanding child, understanding friends, understanding the man I am. I didn't ask to be born, and I didn't ask to be celebrate. Please, be quite. 

Kamis, 12 Juni 2025

Aku (bukan) Hanya Aku

Selama ini, aku bukan tentang hanya aku. Aku tak masalah bila harus selalu memikirkan orang lain, merawat orang lain, menghidupi orang lain. Katakanlah bahwa aku selfless. 

Memang selalu merepotkan diri sendiri, namun, rasanya memang itu yang mengisi aku, mengisi diriku. Bahwa semua orang bersandar kepadaku. Bahwa semua orang membutuhkan yang aku mampu. 

Aku mengerti semua ini bukan hanya tentang diriku, yang kuterima dan kuberi. Bahkan, jika seseorang berkata, "Man who can solves any problem, pretending you can live in the world without problems," aku menerimanya dengan lapang dada. Karena, aku tak tahu arti aku ada di dunia ini selain selalu membantu orang lain. Karena, aku tahu ini bukan tentang diriku. Ini tentang what I need to be. 

Tak masalah bila diri ini tak mendapat kembali, karena diri ini selalu mencoba memenuhi dirinya, dengan atau tanpa orang lain. 

Bisakah diri ini mencintai jalannya meski tak tentu? Bisakah diri ini menerima semua yang terjadi? Bisakah diri ini selalu menemukan tujuannya? Semua akan selalu dicoba dijawabnya. 


Kuterima bahkan jika dirimu tidak menerimanya. 

Rabu, 14 Mei 2025

Everything, Everywhere, All At Once: Penderitaan, Kekosongan, Kehampaan, dan Kasih

 


Jika kita melihat sepintas, itu hanya sebuah bagel atau donat. Tapi, dalam film Everything, Everywhere All At Once (2022) itu lebih dari sebuah bagel. Film ini sangat aneh dan absurd, mari kita coba pikirkan, “bagaimana mungkin bagel itu lebih daripada bagel itu sendiri? Adakah makna di dalamnya?”


 Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memperkenalkan Joy, atau Jobu Tupaki sebagai main villain di film ini. Joy adalah anak dari Evelyn di segala universe. Setiap penderitaan di setiap alam semesta, dia merasakannya. Merasakan ketidakteraturan, ketidaksenangan, ketidaktenangan, ketidaknyamanan. Semua ini disebabkan dari Evelyn di Main Universe memaksa Joy untuk bisa memenuhi ekspektasinya. Joy yang sudah mengalami banyak penderitaan mengambil sebuah persona yang baru, diri yang baru, Jobu Tupaki. Jobu Tupaki menciptakan Everything Bagel yang berisi semua yang ada di dunia ini. Benar-benar semuanya. 


 Everything Bagel ini secara eksplisit adalah metafora dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, hingga menjadi lubang hitam yang menyerap semua makna dan harapan. Konsep Everything Bagel ini sangat mirip dengan Pengkhotbah 1:2 (TB) Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Jobu Tupaki menciptakan Everything Bagel karena ia kehilangan makna. Dalam istilah Eksistensialisme, hal ini disebut Kultus Kehampaan. Bagi Jobu Tupaki, mencari makna adalah menghancurkan dirinya sendiri atau mencari orang yang sama dengan dirinya. 


 Jean Paul-Sartre mengatakan “manusia dikutuk menjadi bebas.” Manusia berhak menentukan dirinya sendiri tanpa bergantung pada moral, tradisi, dogma, dan sebagainya. Inilah tesis utama dari Jobu Tupaki. Jobu Tupaki sadar bahwa dirinya bisa menjadi siapa dan apa saja, dia bisa melintasi waktu dan ruang, dia bisa melakukan apapun yang ia mau. Jobu Tupaki sudah mencoba segalanya, namun baginya tidak ada yang benar-benar berarti. Perasaan Jobu Tupaki ini muncul karena tidak ada yang benar-benar berarti, semuanya bisa berubah-ubah, dan semuanya sangat absurd. 


 Hal ini menghadirkan konsekuensi yang cukup besar. Jika semuanya mungkin, maka tak ada yang benar-benar berarti. Jobu Tupaki layaknya Allah “Kecil”, yang tahu segala hal, tapi berangkat dari situ malah ia merasakan tidak ada yang layak diperjuangkan. Jobu Tupaki juga merasakan kesepian ilahi, ia dengan pemikiran yang sangat luas itu, merasakan kesepian dan kesendirian, merasakan eksistensinya yang tidak pernah jelas. Layaknya Kejadian 2, yang ingin menjadi seperti Allah, malah merasakan kesendirian. Karena tak ada makna yang muncul, satu-satunya jalan ke pembebasan adalah hilang dari dunia ini, Everything Bagel bukanlah makanan, tapi jalan menuju anti-keberadaan. 


 Everything Bagel adalah Altar Kehampaan dan Jobu Tupaki adalah Nabi Kekosongan. 


 Evelyn di semesta yang sama dengan Jobu Tupaki adalah orang yang jahat. Namun, Evelyn di semesta yang ia seburuk-buruknya manusia, adalah manusia yang sebaik-baiknya kepada Joy. Evelyn datang kepada Joy, bukan ingin menceramahi, bukan ingin menasehati. Evelyn datang hanya ingin menemani Joy di tengah kehampaan, kekosongan, dan kehancuran. Evelyn datang bukan dengan mengatakan, “semua usaha untuk bebas dari penderitaan adalah sia-sia, maka nikmatilah,” Evelyn datang dengan hanya hadir, duduk, dan mendengarkan Joy. Evelyn tetap datang untuk hadir, meski ia tak memahami keabsurditasan Joy. 


 Jika Jobu Tupaki adalah Kebebasan Absolut, Evelyn adalah Keterbatasan Penuh. Evelyn tidak sempurna, penuh kekurangan, tidak tahu semua hal. Namun, Evelyn memilih untuk hadir dan tetap ada, menunjukkan bahwa ia bisa mencintai Joy dengan penuh. Keterbatasan terkadang malah memberikan makna dan tujuan. Keterbatasannya Evelyn membuat kasihnya pada Joy menjadi nyata dan ada. 


 Evelyn hadir tanpa argumen teologis, tapi ia hadir atas dasar kasih. Sama seperti Kristus, tidak menjawab dari kejauhan, tapi hadir bagi dunia ini. Evelyn hadir sebagai penebus, bukan karena ia mampu, tapi ia mengetahui bahwa Joy selalu layak untuk diperjuangkan. 


 Saya setuju, jika semua hal di dunia ini adalah kesia-siaan. Namun, apakah baik jika kita melihat orang yang sedang berjuang seperti Joy/Jobu Tupaki dan kita langsung menuding mereka “usaha kalian bebas dari penderitaan adalah sia-sia!”? Saya rasa, satu-satunya jalan terbaik dari kita bagi mereka adalah cara seperti Evelyn, hanya hadir bagi kesulitan mereka. Bahkan, jika Everything Bagel terasa hampa dan kosong, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah hadir. 




Rabu, 30 April 2025

Ragu: Baik atau Buruk? Pentingkah?

 Saat artikel ini ditulis, sudah masuk pada Masa Paskah pekan kedua. Menariknya, saat ini sedang sangat digaungkan perikop dari Yohanes 20 : 20-29. Betul, perikop yang membahas Tomas, Sang Peragu.

 Tomas, karena keraguannya terhadap kebangkitan Yesus, dia jadi disematkan diksi "Ragu". Tapi, mari kita coba selami lebih lagi sudut pandang dari Tomas. Pada dasarnya, sangat sulit bagi murid-murid saat itu, tidak terkecuali Tomas. Mereka harus kehilangan Sosok yang mereka percayai, mereka jadikan pusat atas mereka. Hal ini yang menjadi dasar luka batin yang dialami oleh Tomas dan keraguannya atas kebangkitan Yesus pun jelas, tidak ada orang yang sudah mati, bisa bangkit. 

  Hal ini juga bukan berarti Tomas memiliki iman yang "cetek", tapi inilah iman yang jujur. Keraguan Tomas berasal dari harapan dan kerinduannya akan Yesus. Ironis, bukan? Saat orang lain melihat Tomas itu ragu, di sisi lain Tomas sebenarnya ingin percaya bahwa Yesus bangkit, namun lukanya yang mendalam, membuatnya melihat harus diperlukannya bukti. 

  Ketika kita membaca Alkitab, kita melihat kisah Tomas, ini kisah yang sangat inspiratif, bukan? Tomas menjadi sosok yang awalnya sangsi, yang berakhir menjadi saksi. Tetapi, jika kita di kehidupan nyata, bagaimana? Lebih sering kita lihat apa? Orang dihargai karena mencoba mencari jawaban atau orang diolok-olok karena dianggap tidak percaya? Kita tidak perlu menyangkal bahwa di lingkungan yang sangat dogmatis ini, seringkali hanya kita mempertanyakan Tuhan, kita malah dihakimi memiliki iman yang lemah. 

  Saya tidak meminta para pembaca artikel ini memikirkan yang saya percayai. Namun, saya meminta para pembaca memikirkan yang para pembaca percayai. Sejujurnya, saya sangat muak dengan pemikiran dogmatis seperti itu. Saya tidak ingin terikat dalam berpikir. 

  Bagi saya, iman yang hidup adalah iman yang berani mempertanyakan Tuhan. Ayub, Yakub, dan Musa berani untuk menentang Tuhan, berani untuk mempertanyakan Tuhan, berani untuk meragukan Tuhan. Kenapa kita tidak boleh menentang-Nya? Bagi saya, keberanian dalam menentang dan mempertanyakan Tuhan adalah bentuk kedekatan pula pada-Nya. 

   Iman, seringkali bertumbuh pada percarian makna, seringkali bertumbuh saat kita berupaya menanggapi keraguan kita. Iman memang perlu pembuktian, dan saat inilah keraguan itu menjadi penting. Penting karena dasar dari pembuktian adalah mencoba mempertanyakan, mencoba meragukan. 

  Nah, dalam hal mencari pembuktian pun, menjadi masalah yang baru pula. Seringkali, manusia dalam mencari makna, pemaknaan dijadikan upaya manusia berlari dari permasalahan utamanya. Menjadi upaya manusia lari dari kenyataan. Hal ini menjadi masalah jika kita melihat dari kacamata Karl Marx. Namun, kita coba lihat lebih dalam lagi, manusia memang selalu mendambakan sesuatu yang membuatnya bahagia. Pemaknaan atas keraguan inilah yang membuatnya manusia bisa lari sebentar, istirahat sebentar, berharap sebentar dari hal yang mengejar manusia. Yang membuat manusia menderita. 


Apakah kamu masih ingin terus mempertanyakan Tuhan? 

Selasa, 28 Januari 2025

Mari Kita Uji Semua Kebenaran yang Ada: Nabi Palsu oleh Hindia hasil Refleksi Spiritual Pribadi dari Yeremia 28

 Baskara Putra dengan nama panggung Hindia merilis sebuah album berjudul Lagipula Hidup Akan Berakhir pada tahun 2023 yang lalu. Seperti pada biasanya di setiap album yang sudah Baskara rilis, Baskara selalu menulis lagu yang penuh makna dan sangat reflektif. Lebih tepatnya yang Penulis ingin rombak dan cari maknanya adalah lagu Baskara yang berjudul Nabi Palsu. Sekilas, jika melihat dari judul, bisa saja kita menanggapi lagu ini sebagai lagu sesat, bidat, satanik, seperti berbagai tuduhan yang Baskara selalu dapatkan di setiap saat Baskara berkarya. Namun, mari kita coba telisik, kita cari lebih dalam, kita temukan makna yang lebih mendalam lagi dan kita hubungkan pada Yeremia 28.

 

Di sebuah kota, pinggir Jakarta

Ada seorang anak belajar dansa

Dengan bayangannya, dengan lukanya

Dibalut lagu, sedikit pas-pasan

Dan tanpa disangka, mimpinya jadi besar

Awalnya ia dambakan, ternyata merepotkan

 

 Verse dan bridge pertama dalam lagu ini menceritakan tentang seorang anak yang terinfluence dengan lagu yang ia pelajari. Dalam perjalanannya, ia menemukan bahwa semua hal yang ia inginkan tak semudah dalam lagu-lagu yang ia temukan. Yang ia dambakan dalam hidup, ternyata jadi bagian yang merepotkan yang tidak ia kira.

 

Banjir acara, di Ibu Kota

Ada seorang pria belajar terbuka

Dengan dirinya, perasaannya

Dibalut lagu, masih pas-pasan

Dan tanpa diminta, orang perdebatkannya

Tanpa titik tengah, entah benci dan suka

 

  Verse dan bridge kedua dalam lagu ini merupakan contoh lain yang dihadirkan dalam lagu ini. Bagian ini menceritakan seorang pria yang sedang belajar untuk meregulasi diri dan perasaannya. Dalam perjalanannya, ia menemukan satu atau banyak orang yang selalu kontra terhadap dirinya yang sedang belajar. Selalu ia temukan perdebatan yang tidak ada hasil akhirnya dan bingung antara benci dan suka ketika ada yang berdebat.

  Dari dua contoh ini terdapat satu kalimat yang mirip, yang Penulis kira ada artinya lebih daripada sebuah kalimat. Kalimat tersebut adalah "sedikit pas-pasan" dan "masih pas-pasan". Penulis kira, kedua kalimat tersebut bermaksud tentang pemahaman anak kecil dan pria tersebut, yang buru-buru memaknai dan percaya pada lagu (lagu dalam hal ini bisa jadi banyak hal, yang pasti adalah yang mereka dapatkan dari orang lain) dan langsung diimplementasikan dalam kehidupan mereka. Maka, ketika mereka menemukan sesuatu yang berbeda, mereka bisa saja tersandung dalam paradigma mereka sendiri. Lalu, respon yang mereka berikan apa? Nah, respon mereka bisa kita lihat dalam reff lagu ini.

 

Maka ia berpesan, pada dasarnya semua orang hipokrit

Percaya hanya pada dirimu, bukan idolamu yang liriknya berbelit

Juga dengan mereka, yang menjual air mata setiap menit

Atau dengan pelaku skena, yang bagimu keren selangit

 

  Respon dari anak dan pria tersebut sama, mereka berpesan pada semua orang, bahwa semua orang pada akhirnya itu munafik. Kedua orang tersebut memberikan tiga contoh orang yang selalu kita uji kebenarannya, yakni seniman idola, orang yang "menjual air mata", dan pelaku skena. Nah, bagi Penulis, ini pesan yang sangat menarik, karena hal ini sangat relevan pada dewasa ini. Hal ini sebenarnya yang menjadi keresahan bagi Baskara. Baskara resah ketika para pendengarnya menjadikan dirinya sebagai satu-satunya keresahan. Baskara melalui lagu ini ingin mendorong para pendengarnya menguji makna setiap karya dan perkataan dari para seniman juga para figur publik dan tidak menjadikannya sebagai satu-satunya kebenaran yang ada.

   Hal ini Penulis temukan juga pada Yeremia 28. Sebagai konteks, pada saat itu Bangsa Yehuda sedang dijajah oleh Kerajaan Babel. Hananya sebagai Nabi Kultis memberikan pernyataan pada Bangsa Yehuda bahwa Tuhan akan menyelesaikan  penjajahan oleh Babel  dalam dua tahun dan semua peralatan Bait Allah akan kembali ke Yerusalem.Yeremia menanggapi nubuatan Hananya dengan kritis bahwa nabi itu selalu hadir memberikan pesan dengan makna yang lebih dalam dan cenderung tidak disukai oleh masyarakat. Yeremia menyatakan, jikalau nubuatan itu hadir, maka nabi-nabi sebelumnya yang menawarkan pendamaian, seharusnya sudah berhasil, namun nyatanya masih berisi penindasan. Yeremia hadir memberikan pernyataan yang berbeda dengan Hananya. Yeremia memberikan pernyataan bahwa memang Tuhan-lah yang membuat Bangsa Yehuda untuk dijajah oleh Babel dan tidak segera melepaskannya. Firman Tuhan melalui Yeremia menyatakan bahwa Hananya telah mengajak Bangsa Yehuda untuk melawan Tuhan. Lalu, Yeremia bernubuat bahwa Hananya akan mati di tahun itu juga. Akhirnya, nubuat Yeremia-lah yang terbukti, Hananya mati di tahun tersebut pada bulan ketujuh.

 Refleksi pribadi Penulis adalah kedua teks tersebut berisi tentang discernment, berisi tentang kemampuan untukl mengenali kebenaran sejati di antara banyak kebenaran. Bagi Baskara, Baskara menuangkan keresahannya melalui lagu Nabi Palsu ini. Baskara ingin menekankan bahwa seniman bukanlah satu-satunya kebenaran dan pemaknaan dalam lagu pun bukan satu-satunya kebenaran mutlak. Baskara ingin menekankan bahwa para pendengarnya perlu menguji semua perkataan atau perilaku seniman dan figur publik. Baskara ingin menyampaikan juga bahwa menyesuaikan semua yang ada dengan nilai-nilai pribadi. Hal yang sama, terjadi pada teks Yeremia 28, ingin menunjukkan bahwa dalam dua pendapat yang terlihat otoritatif dan berasal dari pemaknaan terhadap Tuhan, kita harus selalu menguji semuanya. Dalam pengujiannya, kita harus menemukan, mana yang berasal dari Tuhan yang sejati, mana yang hanya terlihat benar saja

   Kedua teks ini berbicara tentang kewajiban dan tanggungjawab pribadi untuk memahami, menilai, menguji, mengetahui kebenaran yang sejati. Tentunya, dalam dewasa ini, hal yang menjadi cukup sulit mencari kebenaran yang sejati di antara banyaknya kebenaran yang ada. Penulis merupakan Mahasiswa Teologi dan ini sangat menjadi perenungan seumu rhidup bagi Penulis. Seorang dosen pernah menguji mahasiswanya, "Maka, yang perlu kita renungkan dalam menjalani ini semua adalah, sebenarnya kita ini Yeremia atau Hananya?" dan berangkat dari pertanyaan ini, artikel ini ditulis karena berangkat dari keresahan Penulis yang kebetulan sama dengan keresahan Baskara. 


Sumber:

1. https://superlive.id/supermusic/artikel/super-buzz/hindia-menemukan-titik-terang-di-antara-keresahan-pada-lagipula-hidup-akan-berakhir-bagian-ii

2. https://www.intipseleb.com/lokal/75182-nabi-palsu-jadi-pesan-spesial-hindia-di-album-kedua-lagipula-hidup-akan-berakhir

3. https://katolisitas.org/discernment-pembedaan-roh-roh/


Selasa, 09 Juli 2024

(Tak) Ingin Mati di Tangan Sendiri

Saya tak mengerti alasan saya merasakan hal ini kembali. Rasanya saya selalu jatuh di hal yang sama terus-menerus. Ya, terkadang hal itu membuat saya ingin membunuh diri saya sendiri. 

Namun, saya tak ingin mengotori tangan saya sendiri. Tetap, bukan berarti saya tak ingin mati. Saya hanya tak masalah jika besok saya mati atau besok adalah kiamat. 

Aneh, bukan? Padahal, saya memiliki kehidupan yang baik. Saya memiliki keluarga yang sayang terhadap saya. Saya memiliki teman perempuan yang spesial. Saya memiliki pertemanan yang peduli dengan saya. Saya memiliki komunitas yang membuat saya bertumbuh. 

Saya mengetahui bahwa saya terlalu muda untuk membicarakan pendewasaan ataupun Quarter Life Crisis, tapi bukan berarti saya tak merasakan perbedaan pada masa kecil saya dengan masa sekarang. Memikirkan persiapan masa depan, tabungan, dan hal-hal yang harus saya hadapi tua nanti toh tidak terlalu buruk. 

Yang pasti, saya lebih banyak tersenyum, bergurau, tertawa, daripada ketika saya merana, gundah, berduka. Semesta dan entitas yang lebih daripada saya pun baik terhadap saya. Saya bersyukur. 

Saya ingin mati, namun saya tak ingin nama saya muncul di surat kabar dengan pilu, padahal saya memiliki banyak yang baik dalam hidup saya. Saya ingin mati dalam unsur ketidaksengajaan. Saya ingin mati secara kebetulan, seolah sudah ditakdirkan semesta. 

Saya hanya tak masalah jika saya mati esok pagi.

Senin, 24 Juni 2024

Jadi Bulan Itu Sakit.

 "Kamu tau alasan kenapa Bulan itu selalu menunjukkan permukaan yang sama ke Bumi?"


"Memangnya kenapa?"


"Karena jadi Bulan itu sakit."


"Apa yang bikin bulan sakit?"


"Bulan itu sadar, kalau Bulan dengan Bumi terlalu dekat, mereka bakal saling menghancurkan. Bumi tak pernah menyadarinya. Bumi hanya sadar Bulan itu terang, seterang Matahari, kesukaan Bumi. Tapi, Bulan hanya memantulkan sinar Matahari,  yang mana Matahari pun menyukai Bumi. Bulan selalu memaksa dirinya untuk ada di posisi yang sama, yang mana rotasi dan revolusinya terhadap Bumi selama 29,5 hari. Bulan memaksa dirinya agar Bumi tetap melihat Bulan seperti selama ini, agar Bulan tetap di dekat Bumi, agar mereka tidak saling menghancurkan akibat naifnya Bumi."


"Mengapa Bulan melakukan itu? Mengapa Bulan tak pergi saja? Atau malahan Bulan tabrakan diri saja, agar Matahari pun tak mendapatkan Bumi? 


"Karena tak semua hal pantas untuk dihancurkan. Ada beberapa hal pantas dipertahankan meski ada yang dikorbankan."

(Not Be) Birth

 Today was my birthday. 21st of January. I really-really hate the day i was born. Yes, just like Job and Jeremiah. They cursed the day they ...