Rabu, 14 Mei 2025

Everything, Everywhere, All At Once: Penderitaan, Kekosongan, Kehampaan, dan Kasih

 


Jika kita melihat sepintas, itu hanya sebuah bagel atau donat. Tapi, dalam film Everything, Everywhere All At Once (2022) itu lebih dari sebuah bagel. Film ini sangat aneh dan absurd, mari kita coba pikirkan, “bagaimana mungkin bagel itu lebih daripada bagel itu sendiri? Adakah makna di dalamnya?”


 Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memperkenalkan Joy, atau Jobu Tupaki sebagai main villain di film ini. Joy adalah anak dari Evelyn di segala universe. Setiap penderitaan di setiap alam semesta, dia merasakannya. Merasakan ketidakteraturan, ketidaksenangan, ketidaktenangan, ketidaknyamanan. Semua ini disebabkan dari Evelyn di Main Universe memaksa Joy untuk bisa memenuhi ekspektasinya. Joy yang sudah mengalami banyak penderitaan mengambil sebuah persona yang baru, diri yang baru, Jobu Tupaki. Jobu Tupaki menciptakan Everything Bagel yang berisi semua yang ada di dunia ini. Benar-benar semuanya. 


 Everything Bagel ini secara eksplisit adalah metafora dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, hingga menjadi lubang hitam yang menyerap semua makna dan harapan. Konsep Everything Bagel ini sangat mirip dengan Pengkhotbah 1:2 (TB) Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Jobu Tupaki menciptakan Everything Bagel karena ia kehilangan makna. Dalam istilah Eksistensialisme, hal ini disebut Kultus Kehampaan. Bagi Jobu Tupaki, mencari makna adalah menghancurkan dirinya sendiri atau mencari orang yang sama dengan dirinya. 


 Jean Paul-Sartre mengatakan “manusia dikutuk menjadi bebas.” Manusia berhak menentukan dirinya sendiri tanpa bergantung pada moral, tradisi, dogma, dan sebagainya. Inilah tesis utama dari Jobu Tupaki. Jobu Tupaki sadar bahwa dirinya bisa menjadi siapa dan apa saja, dia bisa melintasi waktu dan ruang, dia bisa melakukan apapun yang ia mau. Jobu Tupaki sudah mencoba segalanya, namun baginya tidak ada yang benar-benar berarti. Perasaan Jobu Tupaki ini muncul karena tidak ada yang benar-benar berarti, semuanya bisa berubah-ubah, dan semuanya sangat absurd. 


 Hal ini menghadirkan konsekuensi yang cukup besar. Jika semuanya mungkin, maka tak ada yang benar-benar berarti. Jobu Tupaki layaknya Allah “Kecil”, yang tahu segala hal, tapi berangkat dari situ malah ia merasakan tidak ada yang layak diperjuangkan. Jobu Tupaki juga merasakan kesepian ilahi, ia dengan pemikiran yang sangat luas itu, merasakan kesepian dan kesendirian, merasakan eksistensinya yang tidak pernah jelas. Layaknya Kejadian 2, yang ingin menjadi seperti Allah, malah merasakan kesendirian. Karena tak ada makna yang muncul, satu-satunya jalan ke pembebasan adalah hilang dari dunia ini, Everything Bagel bukanlah makanan, tapi jalan menuju anti-keberadaan. 


 Everything Bagel adalah Altar Kehampaan dan Jobu Tupaki adalah Nabi Kekosongan. 


 Evelyn di semesta yang sama dengan Jobu Tupaki adalah orang yang jahat. Namun, Evelyn di semesta yang ia seburuk-buruknya manusia, adalah manusia yang sebaik-baiknya kepada Joy. Evelyn datang kepada Joy, bukan ingin menceramahi, bukan ingin menasehati. Evelyn datang hanya ingin menemani Joy di tengah kehampaan, kekosongan, dan kehancuran. Evelyn datang bukan dengan mengatakan, “semua usaha untuk bebas dari penderitaan adalah sia-sia, maka nikmatilah,” Evelyn datang dengan hanya hadir, duduk, dan mendengarkan Joy. Evelyn tetap datang untuk hadir, meski ia tak memahami keabsurditasan Joy. 


 Jika Jobu Tupaki adalah Kebebasan Absolut, Evelyn adalah Keterbatasan Penuh. Evelyn tidak sempurna, penuh kekurangan, tidak tahu semua hal. Namun, Evelyn memilih untuk hadir dan tetap ada, menunjukkan bahwa ia bisa mencintai Joy dengan penuh. Keterbatasan terkadang malah memberikan makna dan tujuan. Keterbatasannya Evelyn membuat kasihnya pada Joy menjadi nyata dan ada. 


 Evelyn hadir tanpa argumen teologis, tapi ia hadir atas dasar kasih. Sama seperti Kristus, tidak menjawab dari kejauhan, tapi hadir bagi dunia ini. Evelyn hadir sebagai penebus, bukan karena ia mampu, tapi ia mengetahui bahwa Joy selalu layak untuk diperjuangkan. 


 Saya setuju, jika semua hal di dunia ini adalah kesia-siaan. Namun, apakah baik jika kita melihat orang yang sedang berjuang seperti Joy/Jobu Tupaki dan kita langsung menuding mereka “usaha kalian bebas dari penderitaan adalah sia-sia!”? Saya rasa, satu-satunya jalan terbaik dari kita bagi mereka adalah cara seperti Evelyn, hanya hadir bagi kesulitan mereka. Bahkan, jika Everything Bagel terasa hampa dan kosong, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah hadir. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(Not Be) Birth

 Today was my birthday. 21st of January. I really-really hate the day i was born. Yes, just like Job and Jeremiah. They cursed the day they ...