Namun, saya tak ingin mengotori tangan saya sendiri. Tetap, bukan berarti saya tak ingin mati. Saya hanya tak masalah jika besok saya mati atau besok adalah kiamat.
Aneh, bukan? Padahal, saya memiliki kehidupan yang baik. Saya memiliki keluarga yang sayang terhadap saya. Saya memiliki teman perempuan yang spesial. Saya memiliki pertemanan yang peduli dengan saya. Saya memiliki komunitas yang membuat saya bertumbuh.
Saya mengetahui bahwa saya terlalu muda untuk membicarakan pendewasaan ataupun Quarter Life Crisis, tapi bukan berarti saya tak merasakan perbedaan pada masa kecil saya dengan masa sekarang. Memikirkan persiapan masa depan, tabungan, dan hal-hal yang harus saya hadapi tua nanti toh tidak terlalu buruk.
Yang pasti, saya lebih banyak tersenyum, bergurau, tertawa, daripada ketika saya merana, gundah, berduka. Semesta dan entitas yang lebih daripada saya pun baik terhadap saya. Saya bersyukur.
Saya ingin mati, namun saya tak ingin nama saya muncul di surat kabar dengan pilu, padahal saya memiliki banyak yang baik dalam hidup saya. Saya ingin mati dalam unsur ketidaksengajaan. Saya ingin mati secara kebetulan, seolah sudah ditakdirkan semesta.
Saya hanya tak masalah jika saya mati esok pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar